Tips Presentasi Untuk Arsitek oleh Rio Hamdani

Profesi arsitek selalu terkait presentasi. Semuanya bermula dari studio arsitektur di kampus, dimana pengerjaan satu semester harus diringkas menjadi tepat 10 menit untuk mendapatkan atensi dalam memahami proyek Anda, dan kemudian berlanjut ke kehidupan sebagai seorang profesional yang menjadikan presentasi tersebut sebagai alat utama berkomunikasi dengan rekan kerja, klien, juri atau dengan arsitek lain.

Presentasi yang baik harus bisa mendapatkan persetujuan bagi proyek Anda, atau mendapat masukan tentang sebuah perbaikan jika rencana yang Anda kemukakan tidak benar. Sebagai contoh, jika dibandingkan, maka presentasi ke klien berbeda dengan presentasi untuk sekelompok arsitek, bahkan jika kebutuhan cara mengkomunikasikan proyek Anda tersebut adalah sama.

Biasanya saya harus memberikan beberapa presentasi tiap bulannya. Saya selalu berusaha agar presentasi tersebut layak dan tidak membuang-buang waktu orang lain. Kemudian sebuah bantuan datang dari Garr Reynolds dengan “Zen Presentasi” nya dimana saya mendapatkan beberapa poin penting yang akan saya bagikan kepada Anda tentang cara membuat presentasi yang baik, disesuaikan dengan profesi sebagai arsitek.

1 Kenali pendengar Anda 
Saya fikir ini adalah bagian yang paling krusial. Bisa dikatakan, Anda butuh cara apapun agar berhasil berkomunikasi. Dalam rangka menyampaikan pesan dari Anda, diperlukan penyajian presentasi yang disesuaikan kondisi pendengar, agar mudah dipahami. Dalam arsitektur, ada beberapa istilah dan konsep yang mudah dipahami seorang arsitek tetapi klien atau khalayak umum mungkin tidak mengerti. Seringkali kita menemukan kata-kata yang bisa disalah artikan dan menyesatkan pendengar kita, seperti kata ‘program’, ‘urban fabric’, dll.

2 Jadikan Sederhana
Seperti yang kita lakukan dengan proyek-proyek kita maka presentasi juga harus sederhana. Kita harus menghapus segala sesuatu yang tidak perlu. Anggap materi presentasi sebagai sebuah bangunan yang semua elemennya ada di sana karena sebuah alasan jelas. Hal ini tentu cukup sulit mengingat seorang arsitek harus mampu menyajikan hingga mencapai hal-hal penting. Sebagai latihan Garr menyarankan agar Anda menguraikan tiga hal yang ingin didengar oleh pendengar Anda dalam sebuah presentasi. “simpel lebih baik”.

3 Relevansi 
Ini terkait dengan poin sebelumnya. Tempatkan diri Anda pada posisi audiens dan ajukan pertanyaan “lantas bagaimana?”. Anda mungkin memiliki beberapa cerita menarik atau konsep yang akan diceritakan ke pendengar, tetapi jika mereka tidak berinteraksi dan berkomunikasi dengan Anda – semua akan sia-sia.

4 Struktur / Bagan 

Mulailah dengan pondasi, kemudian ikuti dengan struktur, lantas pindah ke pembungkus bangunan dan interior. Ini adalah proses yang jelas yang sudah Anda ketahui pada sebuah bangunan. Jadi, lakukan hal yang sama untuk presentasi Anda.

Hal ini akan membuat audiens mengikuti dan fokus pada presentasi Anda. Ketika saya harus membuat presentasi dengan durasi yang cukup lama, saya selalu memulainya seperti sebuah indeks, dimana ketika presentasi bergerak maju maka saya selalu mengingatkan audiens di mana posisi presentasi, karenanya mereka dapat mengikuti presentasi dan tetap fokus, serta memahami poin apa yang akan datang berikutnya.

5 Mendongeng 

‘Saya ingat bahwa Frank Lloyd Wright merancang rumah Fallingwater hanya 2 jam sebelum pertemuannya dengan Kaufmann, semuanya terjadi saat duduk di meja gambar.

Seperti yang Anda lihat, cerita diatas akan menarik bagi seorang arsitek, dan Anda akan langsung mengerti maksud dari cerita tersebut. Cerita dapat menghubungkan Anda dengan audiens Anda, dan melibatkan mereka.

Anda dapat berpikir tentang proyek Anda sebagai sebuah cerita, dan mengembangkan seluruh materi presentasi seolah-olah Anda adalah seorang pendongeng. Hanya perlu diingat ,cerita yang tidak relevan dapat berbahaya daripada membantu.

6 Percaya Diri
Bahkan setelah melakukan ratusan presentasi, saya masih gugup sebelum melakukannya. Jika Andaterlihat gugup maka audiens cenderung untuk melihat kegugupan itu daripada fokus pada proyek yang dipresentasikan.

Saran terbaik mengatasi rasa gugup adalah berlatih, berlatih dan berlatih. Jika Anda selalu belajar dan menganalisa pengalaman presentasi ebelumnya maka ke depan presentasi akan mengalir secara alami, dan akan membuat Anda siap untuk hal tak terduga saat presentasi.

Sumber Tulisan : http://riohamdani.com/

1
Hello Sahabat JogjaArsitek.Com
Ada Yang Bisa Kami Bantu ?
Powered by
error: