Seperti Apa Inspirasi Desain Kamar Tidur untuk Lansia?

Tinggal bersama orang lanjut usia (lansia) berarti ada kebutuhan khusus dalam penataan rumah. Salah satu contohnya adalah kamar tidur. Baik dalam kondisi sehat maupun sakit, lansia membutuhkan kondisi tertentu untuk mendapatkan istirahat berkualitas. Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan agar para lansia merasa nyaman.

Photo by Francesca Tosolini on Unsplash
  1. Tempat tidur

Ahli fisioterapi Widianing Retnaningsih, menjelaskan, seorang lansia umumnya memiliki struktur tulang belakang yang mudah sekali terpengaruh oleh faktor luar contohnya tempat tidur. “Sebaiknya gunakan tempat tidur yang padat, agar dapat menjaga bentuk struktur tulang belakang supaya tidak makin melengkung akibat tempat tidur terlalu empuk,” ujar Widianing yang berpraktik di RS Pertamedika Sentul kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2015).

Mengenai jenis tempat tidur, Widianing tidak mematok harus busa atau kapuk, asal kepadatannya sesuai. Dia juga memaparkan bahwa kemampuan gerak lansia cenderung melambat seiring bertambahnya usia mereka. Ini turut berpengaruh saat mereka harus bangun dari tempat tidur, seringkali mereka mengalami kesulitan mengangkat bobot tubuh sendiri. Untuk memudahkannya, gunakan tempat tidur dengan tinggi lebih dari 50 cm dari lantai. Sediakan pula ruang gerak yang cukup luas di sekeliling tempat tidur untuk memudahkan mereka bangun.

  1. Penataan kamar

Beberapa orang lansia mengalami kesulitan berjalan akibat gangguan keseimbangan ataupun penyakit tertentu. Widianing menyebutkan ada beberapa alat bantu yang perlu digunakan lansia yaitu tongkat berjalan, tripod walker (tongkat berjalan dengan tiga ujung kaki), walking frame (alat bantu empat kaki), dan kursi roda.

Untuk memudahkan lansia berjalan dengan alat bantu tersebut, pastikan kamar tidur tidak dipenuhi terlalu banyak furnitur dan aksesori. Pintu masuk kamar tidur sebaiknya dibuat selebar 80 cm-90 cm agar mereka mudah melewatinya ketika menggunakan walking frame ataupun kursi roda.

Jangan ada laci atau lemari penyimpanan yang terlalu tinggi untuk dijangkau oleh orang tua lansia. Pastikan semua penyimpanan mudah dijangkau sehingga mereka tidak perlu menaiki kursi untuk mengambil barang di tempat-tempat tinggi. Tempatkan kursi atau sofa tunggal di area-area yang mengharuskan orang tua lansia berdiri dalam waktu lama, contohnya di dekat lemari pakaian.

 

  1. Letak kamar tidur

Widianing menuturkan, seseorang mulai mengalami pengapuran tulang pada usia 40 tahun ke atas. Ini berpengaruh pada kemampuan mereka untuk naik dan turun tangga. “Ketika menaiki tangga, seorang lansia harus mengangkat beban sebesar 150 persen- 200 persen dari bobot mereka sendiri. Ini tentu akan sulit, terutama bagi mereka yang sudah mengalami pengapuran tulang lutut,” jelasnya.

Karena itu sebaiknya kamar seorang lansia tidak berada di lantai dua. Dengan demikian, mereka tidak perlu naik-turun tangga untuk menuju ruang-ruang lain seperti ruang keluarga ataupun dapur. Kamar lansia sebaiknya tidak bersebelahan dengan kamar anak terutama bila anak-anak sering bermain di dalam kamar. Orang lansia memerlukan ketenangan ekstra untuk memenuhi kebutuhan istirahat mereka.

  1. Pelengkap

Di kamar lansia, ada baiknya dipasangkan bel pemanggil dengan tombol yang mudah mereka jangkau dari tempat tidur. Bisa juga dengan menempatkan telepon di sebelah tempat tidur, agar mereka dapat dengan mudah memanggil anggota keluarga lainnya ketika membutuhkan sesuatu.

Sediakan senter atau lampu darurat di dalam laci side table dan pastikan letaknya mudah dijangkau dari tempat tidur. Bila sewaktu-waktu listrik padam, para lansia dapat menggunakan senter atau lampu darurat tersebut sebelum anggota keluarga lainnya menghampiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *